Satukatanews.com. – BARRU – Kabupaten Barru dinilai berada pada titik persimpangan antara stigma sebagai daerah yang minim investor dan harapan besar untuk mendorong percepatan pembangunan. Isu tersebut mengemuka dalam dialog yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Barru sebagai ruang refleksi kritis terhadap arah pembangunan daerah ke depan, Ahad 28/12/2025.
Dialog ini menghadirkan Herman Jaya, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Barru, Ardi Susanto, dan Fahrul Islami sebagai pemateri. Turut hadir Syamsuddin Muhiddin, Ketua Presidium KAHMI Kabupaten Barru yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Barru, serta pengurus Majelis Daerah (MD) KAHMI Kabupaten Barru, yakni Mukti Alimin dan Ahmad Akmal.
Dalam pemaparannya, Herman Jaya menegaskan bahwa stigma Barru sebagai daerah “miskin investor” harus dijawab dengan kerja nyata, kebijakan yang tepat sasaran, serta perbaikan tata kelola pemerintahan. Menurutnya, Kabupaten Barru memiliki potensi besar di berbagai sektor, mulai dari pertanian, kelautan, perikanan, hingga pengembangan UMKM dan ekonomi lokal.
“Yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama adalah bagaimana membangun kepercayaan investor tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat. DPRD memiliki peran strategis untuk memastikan kebijakan pembangunan berjalan adil, berkelanjutan, dan berpihak kepada rakyat,” ujar Herman Jaya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, dalam menciptakan iklim investasi yang sehat. Kritik dan gagasan mahasiswa, menurutnya, harus ditempatkan sebagai bagian dari kontrol demokrasi yang konstruktif.
Sementara itu, Ardi Susanto dan Fahrul Islami menyoroti perlunya penguatan peran pemuda dan mahasiswa dalam membaca peluang pembangunan daerah. Keduanya menilai bahwa stigma negatif terhadap investasi tidak bisa dilepaskan dari tantangan birokrasi, kualitas pelayanan publik, serta konsistensi kebijakan yang masih perlu terus dibenahi.
Ketua Presidium KAHMI Kabupaten Barru, Syamsuddin Muhiddin, mengapresiasi HMI Cabang Barru yang konsisten menghadirkan ruang dialog intelektual. Ia menegaskan bahwa HMI dan KAHMI memiliki tanggung jawab historis untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Barru tidak kekurangan potensi, tetapi membutuhkan keseriusan, kolaborasi, dan kepemimpinan yang kuat. HMI dan KAHMI harus hadir sebagai bagian dari solusi,” tegasnya.

Dialog berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan kritis dari peserta. Melalui forum ini, HMI Cabang Barru berharap stigma negatif terhadap iklim investasi dapat diurai secara objektif, sekaligus melahirkan gagasan dan rekomendasi strategis demi mewujudkan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjungan.














