Satukatanews.com. – BARRU – Mengikuti Pekan Nasional Petani Nelayan XVII merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi kami, para penyuluh dan pelaku utama sektor pertanian. Kegiatan berskala nasional ini bukan sekadar ajang pertemuan, tetapi menjadi wadah untuk bertukar pengalaman, memperluas wawasan, dan memperkuat komitmen dalam membangun pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan modern. Senin (29/6/2026).
Dengan semangat tersebut, pada Rabu, 17 Juni 2026, tepat pukul 21.35 WITA, kami, rombongan dari Kabupaten Barru, memulai perjalanan menuju Gorontalo menggunakan kendaraan Toyota HiAce. Perjalanan darat melintasi Pulau Sulawesi ini diperkirakan memakan waktu 3 malam 2 hari, sebuah perjalanan panjang yang penuh cerita, kebersamaan, dan pengalaman berharga. Selama 3 malam 2 hari, perjalanan dipenuhi dengan berbagai pengalaman. Hamparan sawah, pegunungan yang menjulang, serta pemandangan pesisir menjadi teman sepanjang perjalanan. Berbagai tantangan di jalan, mulai dari tikungan, tanjakan, hingga perubahan cuaca, dilalui dengan penuh kesabaran dan kebersamaan.
Hari Pertama: Menembus Malam di Jalur Trans Sulawesi
Perjalanan malam membawa kami menyusuri jalur Trans Sulawesi yang lengang. Tepat pukul 01.47 WITA, rombongan singgah di Masjid Imam Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. Masjid yang dikenal sebagai salah satu ikon religi di Sulawesi Barat ini menjadi tempat pertama kami beristirahat sekaligus memanjatkan doa agar perjalanan diberikan keselamatan dan kelancaran.
Menjelang fajar, tepat pukul 05.32 WITA, kami kembali berhenti untuk menunaikan salat Subuh di Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju. Setelah melanjutkan perjalanan, pukul 09.45 WITA kami menikmati sarapan bersama di Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah.
Siang harinya, pukul 13.04 WITA, rombongan kembali berhenti di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, untuk menunaikan salat Zuhur sekaligus beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu hari penuh, akhirnya sekitar pukul 21.13 WITA pada 18 Juni 2026, kami tiba di Kota Palu. Malam itu kami beristirahat di rumah salah seorang keluarga anggota rombongan yang juga berasal dari Barru. Sambutan hangat keluarga menjadi obat pelepas lelah setelah perjalanan panjang.
Hari Kedua: Dari Palu Menuju Gorontalo
Pagi hari Jumat, 19 Juni 2026, tepat pukul 05.59 WITA, kami kembali melanjutkan perjalanan meninggalkan Kecamatan Palu Selatan.
Perjalanan kali ini menyuguhkan panorama alam Sulawesi Tengah yang luar biasa indah. Pukul 07.25 WITA, kami beristirahat sejenak di Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala. Siang harinya, pukul 13.39 WITA, rombongan singgah makan siang di Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong.
Perjalanan kembali dilanjutkan hingga pukul 15.39 WITA, kami berhenti di Kecamatan Bolano Lambunu untuk menikmati sekaligus membeli rambutan yang sedang musim. Momen sederhana ini menjadi penyegar di tengah perjalanan panjang.
Menjelang petang, tepat pukul 17.09 WITA, kami tiba di perbatasan Provinsi Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Suasana haru mulai terasa karena tujuan sudah semakin dekat.
Akhirnya, pada 20 Juni 2026 pukul 01.14 WITA, rombongan tiba dengan selamat di Posko Kabupaten Barru yang telah disiapkan panitia PENAS XVII.
Mengikuti Rangkaian PENAS XVII
Tak banyak waktu untuk beristirahat. Pada pukul 06.00 WITA, rombongan berangkat menuju lokasi kegiatan di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, untuk mengikuti pembukaan PENAS XVII yang dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia.
Selama pelaksanaan PENAS XVII, kami mengikuti berbagai kegiatan yang sangat bermanfaat, di antaranya:
Temu Wicara
Temu Teknologi
Temu Karya
Temu Profesi
Gelar Teknologi
Pameran dan berbagai kegiatan pengembangan pertanian lainnya.
Seluruh rangkaian kegiatan memberikan pengalaman baru, memperluas jejaring, sekaligus menjadi media pembelajaran bagi para penyuluh, petani, nelayan, dan pelaku usaha pertanian dari seluruh Indonesia.
Puncak kegiatan berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026, ketika Presiden Republik Indonesia hadir pada acara utama yang berlangsung pukul 12.00-14.00 WITA. Kehadiran Presiden menjadi penyemangat sekaligus bukti nyata perhatian pemerintah terhadap pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Usai acara puncak, tepat pukul 15.00 WITA, rombongan Kabupaten Barru menuju Kota Gorontalo untuk memenuhi undangan makan bersama Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan menjadi penutup yang indah sebelum kembali ke kampung halaman.
Perjalanan Pulang
Pada Rabu malam, 24 Juni 2026, tepat pukul 21.35 WITA, rombongan meninggalkan Gorontalo menuju Barru. Waktu tempuh perjalanan pulang berlangsung 3 malam 2 hari, sama seperti saat keberangkatan.
Perjalanan panjang kembali menyusuri jalur Trans Sulawesi memberikan kesempatan untuk mengenang seluruh pengalaman selama mengikuti PENAS XVII. Berbagai ilmu, teknologi, inovasi, serta persahabatan yang terjalin selama di Gorontalo menjadi bekal berharga yang akan dibawa pulang untuk diterapkan di Kabupaten Barru.
Sesampainya kembali di Barru, rasa lelah seolah sirna, berganti dengan rasa syukur karena seluruh rombongan dapat menyelesaikan perjalanan dengan selamat. Lebih dari sekadar perjalanan lintas provinsi, perjalanan ini merupakan perjalanan ilmu, pengabdian, dan semangat untuk terus mendampingi petani dalam mewujudkan pertanian Indonesia yang semakin maju.
PENAS XVII telah memberikan pengalaman yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa kolaborasi antara penyuluh, petani, nelayan, akademisi, dunia usaha, dan pemerintah merupakan kunci menuju kedaulatan pangan Indonesia.
“Perjalanan boleh berakhir, tetapi semangat untuk mengabdi kepada petani dan membangun pertanian Indonesia akan terus berlanjut.”
“Jarak yang jauh akan terasa dekat ketika tujuan yang ingin dicapai adalah untuk belajar, mengabdi, dan memajukan pertanian Indonesia.” Hidup Merah Putih Menuju Swasembada Pangan Nasional. Pertanian Jaya Masyarakat Indonesia Maju.














